Sejarah kayangan api.

12 12 2011

Setiap daerah masing-masing punya karakteristik menyangkut suksesi kepemimpinan yang dihelat lima tahunan sekali. Termasuk di dalamnya, bagaimana menyikapi budaya yang berkemabang kental di sana, terutama, bagi seseorang yang ingin meraih tahta sebagai seorang bupati.

Dan bagi para kandidat calon bupati (cabup) di kota berjuluk Bumi Anglingdarma atau Kota Ledre seperti Kabupaten Bojonegoro, mesti hati-hati pada simbol-simbol yang muncul jauh sebelum pesta itu sendiri diputar. Sumber api abadi bernama Kahyangan Api, kerap dipercaya sebagai pertanda siapa pewaris trah manakala yang bersangkutan bias ‘menjinakkan’ nyala apinya.

Menjinakkan nyala api di sumber api abadi Kahyangan Api, tidak lantas bermakna memadamkan nyala apinya. Tapi, lebih diartikan sebagai gerakan menyatukan keinginan masyarakat yang dari waktu ke waktu terus berkembang dan beragam aspirasinya. Namun, sesungguhnya hanya satu kata yang diinginkan: jangan pernah berbohong dan mebohongi diri sendiri.

Akan tetapi, jangan sekali-kali seorang kandidat cabup melintas jalanan Kahyangan Api yang dikelilingi rerimbunan hutan jati, bila hatinya tak bersih. Seperti misalnya, menonjolkan sifat takabur dan cuma ingi meraih kedudukan apalagi semata berniat mengumpulkan harta.

“Orang boleh mempercayainya atau tidak. Tapi, coba renungkan bagaimana sikap para bupati pendahulu kita, ketika era kerajaan dulu. Siapa yang waspada dan hati-hati, niscaya akan menggapai kemakmuran bersama,” tutur Mbah Rujito, yang setiap hari malam pon kerap terlihat duduk bersila di dekat perapian sumber api abadi Kahyangan Api.

Seperti diketahui, Kahyangan api adalah salah satu obyek pariwisata yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Sumber api yang tidak pernah kunjung padam, yang terletak di kawasan hutan lindung, tepatnya berada pada Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem dikelilingi kabut misteri yang belum terpecahkan hingga kini. Ada kepercayaan di kalangan pesinden dan pedagang yang ingin meraih sukses untuk melakukan ritual di sana.

Kahyangan api, konon, adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pande yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Ada bukti historis yang penting yang menguatkan kahyangan api dengan ditemukannnya 17 lempeng tembaga yang berangka 1223 / 1301 Masehi.

Penemuan prassati di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu pada tanggal 12 Maret 1992 tersebut, berbahasa jawa kuno yang menurut penelitian berasal pada zaman Raja Majapahit I yakni, Kertarajasa Jaya Wardhana. Isi dari prasasti tersebut, adalah pembebasan desa Adan-adan dari kewajiban membayar pajak dan juga ditetapkannya daerah tersebut sebagai sebuah sima perdikan atau swantantra.

Penghargaan Ini diberikan oleh Raden Wijaya terhadap salah satu rajarsi (pungawa, red) atas jasa dan pengabdiannya yang besar terhadap Kerajaan Majapahit saat itu. Dan rajarsi tersebut tidak lain adalah Empu Supa yang lebih mashur deangan sebuatan Mbah Pande.

Sebelah barat sumber api terdapat kubangan lumpur yang berbau belerang. Dan menurut kepercayaan masyarakat setempat, dikubangan itulah Mbah Pande, melakukan aktivitas membuat alat-alat perang hingga alat pertanian. Masyarakat sekitar menganggap keberadaan api abadi tersebut keramat hingga-harus melakukan ritual jika, hendak mengambil pi tersebut.

Menurut cerita, api tersebut hanya boleh diambil jika ada upacara penting seperti yang telah dilakukan pada masa lalu, seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X dan untuk mengambil api melalui suatu prasyarat yakni selamatan/wilujengan dan tayuban dengan gending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo. Oleh sebab itu ketika gending tersebut dialunkan dan ditarikan oleh waranggono (penembang lagu jawa, red) tidak boleh ditemani oleh siapapun.

Kepercayaan tersebut, dipegang teguh oleh masyarak Bojonegoro. Ini terbukti, pada acara ritual pengambilan api tersebut juga dilakukan digelar. Terlebih, pengambilan api PON yang pertama dilakukan di pimpin oleh tetua masyarakat yang dipercaya pada saat itu. Sementara untuk prosesi tersebut meliputi, Asung sesaji (menyajikan sesaji) dan dilanjutkan dengan tumpengan (selamatan).
Dari berbagai sumber cerita, maka kahyangan api yang letakya sekitar 25 km dari ibukota Bojonegoro dijadikan sebagai obyek wisata alam dan dijadikan tempat untuk upacara penting yakni Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro, ruwatan masal dan Wisuda Waranggono.

Tempat wisata ini telah dibenahi dengan berbagai fasilitas seperti pendopo, empat jajanan, jalan penghubung ke lokasi dan fasilitas lainnya. Lokasi kahyangan api sangat baik untuk kegiatan sebagai
lokasi wisata alam bebas(outbound).

Dan pada hari-hari tertentu terutama pada hari Jum’at Pahing banyak orang berdatangan di lokasi tersebut untuk maksud tertentu seperti agar usahanya lancar, dapat jodoh, mendapat kedudukan dan bahkan ada yang ingin mendapat pusaka. Acara tradisional masyarakat yang dilaksanakan adalah Nyadranan (bersih desa) sebagai perwujudan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa.

Pengembangan wisata alam Kahyangan api diarahkan pada peningkatan prasarana dan sarana transportasi, telekomunikasi dan akomodasi yang memadai. Kunjungan ke obyek wisata Kahyangan api dapat dilanjutkan perjalanan ke obyek wisata alam Watu Jago Bojonegoro. (lea)

Iklan

Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: