KEBODOHAN YANG TERSISTEM

3 12 2011

KEBODOHAN YANG TERSISTEM.
Mungkin kata-kata bodoh selalu tergiang di otak dan di telinga kita,saat dulu orang tua kita selalu mengatakan buat apa sekolah lebih baik bekerja dari pada sekolah tak akan jadi apa-apa.
Namun realitasnya apa yang terjadi,Bahasa buat apa sekolah sekarang tidak ada tapi adanya Wajar(wajib belajar) dan itu pun selalu jadi bahan kampanye pada pemerintah dan para politisi .
Walau sekarang kondisinya bagaimana pun,orang tuanya seperti apa pun anak nya wajib belajar,(9 tahun belajar di bangku sekolahan program Pemerintah).
Tapi apakah masyarakat kita mampu kah untuk mengikuti program yang begitu, berat 9 tahun dan itu butuh biaya yang besar,apalagi sekerang tidak seperti dulu.Sekarang banyak Sekolahan yang bermacam-macam kelas nya(Jenis nya).
Dari home scoling,sampai Terpadu dan Internasional schol dan lagi-lagi hanya prestise yang di tonjol kan bukan mutu yang di berlakukan pihak pengelola sekolah.
Semua yang di program kan oleh pemerintah ternyata tidak di imbangi sistem yang bagus buat rakyat nya,kata nya program BOS yang akan bisa membantu pendidikan,tapi kenyataan implementasi nya di lapangan malah jadi obyekan pihak sekolahan,dan yang jadi ironi nya sangat lemah di pengawasan dari para wali murid nya.
Dan Program itu hanya lipstik belaka buat pemerintah dan sangat sistematik dan kenyataan nya tak ada perubahan pada tingkat tataran graas root.
Apakah layak program itu di terus kan atau model nya di rubah bila tak bisa di harap kan oleh masyarakat.Sangat ironi sekali bila Program masih ada tapi kenyataan di lapangan tidak bisa mengentas kemiskinan.
Dan menurut penulis ini akan menjadi ladang korupsi bertambah dan makin ambruk nya negeri ini,masih ada ide kah Pemerintah untuk mengangkat anak Negri ini dan bisa bersejajar dengan Negara lain?.
Atau mungkin semua Sistem negri ini sudah pesanan Negara lain agar Negara kita bisa leluasa di rampas dan di jajah oleh Negara lain dari Sumber daya alam nya.(Mustaqim)

Iklan

Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: