Nyayian Si Jaeman..1986

12 11 2011

Secangkir kopi khotok yang panas di pagi itu menyegar kan otak beberapa orang-orang dusun,yang sebelum mereka berangkat meladang dan pergi ke sawah.obrolan hangat seputar pertanian yang panas sepanas berita-berita nasional yang gencar-gencar nya mengheboh kan tentang reformasi dan pemilu….
Dan jaeman masih terpaku mendengar dan kadang kala ikut nimbrung menimpali omongan orang-orang desa,kalau persoalan hidup di kota atau masalah bagaimana susah nya cari uang di kota dia masih bisa nyambung, akan tetapi bila soal pertanian dia buta dan nul puthul……
karena sejak kecil dia tidak pernah ke sawah atau susah nya di tengah terik nya kebun,entah mencangkul atau mengembalakan ternak……

Dari pojok warung terdengar celoteh yang sangat menyakit kan perasaan jaeman siang itu ” melok-melok sisik – sisik boto kunu loh ,po melok angon2 sapi kunu ….!! nom-nom an kok glimbang-glimbung nang warung THOK !!!” ujar kang parto penuh semangat, sehinga se siang itu jaeman jadi topik pembahasan komunitas warung kopi yu ngatemah …..

Siang yang mulai panas kan kepala orang-orang yang berjibaku di lereng-lereng bengawan dan setumpuk tanah-tanah yang sudah mengering di tata rapi,dan beberapa cubung-cubung mengepulkan asap nya…
laki-laki-perempuan, kecil, tua asik bersenda gurau sambil bekerja di siang itu.
Dari samping jaeman tiba-tiba ada lek pardi yang punya jogan { lahan } pembuatan batu bata. “onok opo man kok kadhingaren nang ngiran gak kerjo nang terminal meneh to….??” ujar nya pada si jaeman yang siang itu bermaksud ikut bekerja membuat batu bata pada dia ……

Dengan senyum yang mengembang di kulum,jaeman langkah kan kaki nya di antara rerimbunan bambu.
dia lamun kan dalam perjalanan nya ternyata tidak di kota saja pekerjaan di dapat , di pingir bengawan pun tersimpan lembaran-lembaran yang menjaji kan masa depan untuk bertahan hidup….

Gema dhuhur mengumandang dari surou kecil di samping rumah jaeman,dan bergegas lah jaeman mengisi padhasan yang di depan surou yang sejak habis subuh tadi mengering tak ada yang peduli ketika setelah memakai air nya.
dengan nawaitu yang iklas jaeman basuh kan muka mngambil air wudhu tuk laksanakan syarat orang islam,dan tanpa terasa sehabis solat dhuhur jaeman rebahan di surou itu….
di bayang kan tentang masa-masa lalu yang begitu mengejar angan nya,masa yang indah bercengkrama bersama teman – teman pondok nya dulu ……

Air kecil yang lembut menyapu kulit sang pori – porij aeman , menyapa halus dari tangan mbah rahmat membangun kan tidur jaeman di siang itu…”wes wayahe ashar le ndang tanggi ,ndang wundhu terus ndang di adhani mesisan ” ujar mbah rahmat sang pemangku surau sekaligus sebagai imam nya ketika solat tiba…

Senja telah menguning hari semakin memburu langkah, dan jaeman termenung…..

Ingin di lukis nya langit itu dengan sosok pelangi yang melengkung ketika senja itu datang…
ingin di tambahi dengan sapuan ke kuning-kuningan dari bias sang mentari yang akan pulang menjemput malam nya….

Dan malam telah tiba jaeman masih asik di kebun samping surau mengamati hilang nya sang mentari satu jam yang lalu……

BERSAMBUNG………9

Iklan

Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: