GERAKAN Warung kopi.

7 11 2011

Perdebatan warung-warung selama ini belum ada ujung pangkal nya,mereka selalu melontarkan isu-isu yang ngak fenomenal.

Selalu berkutat pada wilayah siapa calon kedepan dan apa yang akan dilakukan,memang Perbincangan warung kopi tidak menghasilkan sebuah agenda yang mantap tapi paling tidak bagi sang penikmat kopi jadi refrensi sebuah gerakan akan datang,sudah adakah Cabup-cabup itu membuat time kampanye yang khusus buat menjual program2 nya dari warung-ke warung..?

Padahal warung paling tepat untuk membedah suatu program,dan pencitraan calon.

Kalau di amerika billclintonbisa tumbang dengan facebook oleh barak obama,dan suharto bisa tumbang dari gerakan para mahasiswa yang mengakar dari gerakan2 kampus sampai kakilima.

Dan bahasa rakyat yang sesunguh nya di awali ketika masyarakat berangkat kerja sambil mampir ngopi.

Masyarakat desa sebelum meladang,kehutan,ke sawah,rata-rata banyak yang nongkrong ke warung kopi desa.

Perubahan itu tidak di awali dari gedung yang megah tapi perubahan itu di awali dari bahasa rakyat yang saling bertemu di sebuah warung,dan di kemas jadi gerakan rakyat yang sejati.

Kenapa gerakan antar mahasiswa tidak saling bertemu pada muara nya,Karena mereka banyak yang telah meningalkan tradisi ngopi,dan berdiskusi antar mahasiswa.

Saya teringat jaman 1998 para mahasiswa Bojonegoro ketika akan melakukan aksi tapi rancangan aksi nya/diskusi nya di awali dari sebuah wrung kopi di gajah mada.

Walaupun para aktivis banyak yang di intimidasi/di awasi oleh inteljen, aksi itu tetap jalan terus,dan toh perubahan itu juga nampak di masyarakat sampai sekarang.

Dan masih bisa kah para mahasiswa itu menciptakan perubahan lewat gerakan dari sebuah warung kopi/bukan lagi dari dunia kampus…??!!

Semoga tulisan ini jadi inspirasi yang berbeda,dan jadi perubahan gerakan teman-teman mahasiswa yang ada di mana pun.

Kenapa suyoto sangat tidak peduli dengan PKL,karena bagaimana pun gerakan WARUNG KOPI sangat membawa perubahan dan wacana dalam gerakan isu.

Dan bila gerakan warung sampai di biarkanmaka akan menjadi presiden buruk buat gerakan suyoto.

Masyarakat tahu bahwa bupati suyoto pandai mengemas suatu masalah dengan dialog.

Secara dalam gerakan dialog (isu) lawan nya juga isu(dialog).

Jadi penulis sangat mahfum/maklum kalau suyoto sangat anti dengan PKL,karena PKL (warung), sebagai media paling evektif untuk melepas suatu isu yang masiv di kota/maupun di desa.

Dan kita perlu catat juga, berangkat nya suyoto (kampanye), dalam kampanyenya dia sering memakai media dialog dari warung ke warung pelosok/kota,sampai tingkat Rt sekalian.

Dan ternyata dalam kampanye nya (pencitraan) sangat masiv,bisa mengalahkan uang 1 juta yang di gelontorkan incumbent waktu itu.

Semoga tulisan ini jadi refrensi para kandidat tahun depan.

Perdebatan warung-warung selama ini belum ada ujung pangkal nya,mereka selalu melontarkan isu-isu yang ngak fenomenal.

Selalu berkutat pada wilayah siapa calon kedepan dan apa yang akan dilakukan,memang Perbincangkan warung kopi tidak menghasilkan sebuah agenda yang mantap tapi paling tidak bagi sang penikmat kopi jadi refrensi sebuah gerakan akan datang,sudah adakah Cabup-cabup itu membuat time kampanye yang khusus buat menjual program2 nya dari warung-ke warung..?

Padahal warung paling tepat untuk membedah suatu program,dan pencitraan calon.

Kalau di amerika billclinton bisa tumbang dengan facebook oleh barak obama,dan suharto bisa tumbang dari gerakan para mahasiswa yang mengakar dari gerakan2 kampus sampai kakilima.

Dan bahasa rakyat yang sesunguh nya di awali ketika masyarakat berangkat kerja sambil mampir ngopi.

Masyarakat desa sebelum meladang,kehutan,ke sawah,rata-rata banyak yang nongkrong ke warung kopi desa.

Perubahan itu tidak di awali dari gedung yang megah tapi perubahan itu di awali dari bahasa rakyat yang saling bertemu di sebuah warung,dan di kemas jadi gerakan rakyat yang sejati.

Kenapa gerakan antar mahasiswa tidak saling bertemu pada muara nya,Karena mereka banyak yang telah meningalkan tradisi ngopi,dan berdiskusi antar mahasiswa.

Saya teringat jaman 1998 para mahasiswa Bojonegoro ketika akan melakukan aksi tapi rancangan aksi nya/diskusi nya di awali dari sebuah wrung kopi di gajah mada.

Walaupun para aktivis banyak yang di intimidasi/di awasi oleh inteljen, aksi itu tetap jalan terus,dan toh perubahan itu juga nampak di masyarakat sampai sekarang.

Dan masih bisa kah para mahasiswa itu menciptakan perubahan lewat gerakan dari sebuah warung kopi/bukan lagi dari dunia kampus…??!!

Semoga tulisan ini jadi inspirasi yang berbeda,dan jadi perubahan gerakan teman-teman mahasiswa yang ada di mana pun.

Kenapa suyoto sangat tidak peduli dengan PKL,karena bagaimana pun gerakan WARUNG KOPI sangat membawa perubahan dan wacana dalam gerakan isu.

Dan bila gerakan warung sampai di biarkanmaka akan menjadi presiden buruk buat gerakan suyoto.

Masyarakat tahu bahwa bupati suyoto pandai mengemas suatu masalah dengan dialog.

Secara dalam gerakan dialog (isu) lawan nya juga isu(dialog).

Jadi penulis sangat mahfum/maklum kalau suyoto sangat anti dengan PKL,karena PKL (warung), sebagai media paling evektif untuk melepas suatu isu yang masiv di kota/maupun di desa.

Dan kita perlu catat juga, berangkat nya suyoto (kampanye), dalam kampanyenya dia sering memakai media dialog dari warung ke warung pelosok/kota,sampai tingkat Rt sekalian.

Dan ternyata dalam kampanye nya (pencitraan) sangat masiv,bisa mengalahkan uang 1 juta yang di gelontorkan incumbent waktu itu.

Semoga tulisan ini jadi refrensi para kandidat tahun depan.

Iklan

Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: