Sejarah cerita Tuban

4 12 2011

Raden patah adalah putra raja majapahit. Oleh ayahnya diberi hutan Glagahwangi agar di buka dan dijadikan kadipaten dan di beri nama kadipaten Demak Bimantara. Demak semakin besar banyak kadipaten yg sebelumnya masuk wilayah majapahit bergabung dengan demak. Raden patah juga mendapat dukungan dari para wali penyebar agama islam di jawa. Sehingga demak menjadi semakin kuat dan besar, sehingga menjadi sebuah kerajaan.

Pada suatu ketika raden patah mendengar bahwa kerajaan majapahit diserang Giriwardhana dari kerajaan daha. Ayah raden patah yg menjadi raja majapahit melarikan diri tak tentu rimbanya. Timbulah kemarahan Raden Patah untuk menyerang kerajaan Daha yg telah menduduki majapahit. Serangan Raden Patah segera di lakukan dengan mendapat dukungan dari para wali makan dengan mudah mengalakan Raja Giriwardhana.

Raden Patah mengumpulkan semua benda berharga dan benda keramat yg ada di majapahit untuk di bawa ke Demak. Semua benda sudah di kemas dan di masukan ke dalam kereta untuk dibawa ke Demak. Tinggal 2 batu besar yg akan di bawa ke demak, maka Raden patah bertanya ke prajuritnya “Aku ingin membawa dua batu ini juga, coba siapa yang mampu membawa dua batu ini ?? Maaf Raden tentu tidak ada yang sanggup membawa dua batu itu ke demak, perjalanan ke demak begitu jauh, kata para wali. Biarlah kami para Wali meminta bantuan ke pada 2 burung bangau.

Maaf burung bangau!! kami butuh bantuanmu untuk membawa dua batu ini ke demak. Kuharap kalian ikhlas membantu kami. Tuhan tentu akan mencatat amal perbuatan kalian, kata sang Wali. Sang Wali pun menyuruh para prajurit meletakan dua batu di atas punggung burung bangau. Kedua burung itu segera terbang ke arah Demak Bintara.

Tibalah kedua burung ini di atas tanah lapang. Banyak penggembala yg sedang menggembalakan ternak. Para penggembala melihat kedua burung Bangau itu membawa batu di punggung masing masing. “hei lihat itu diatas!! ada dua ekor burung bangau yang aneh”. “Benar terbangnya sangat lambat seperti jalanya kura kura saja” Kata penggembala yang lain.

Kedua bangau marah, dan segera mengepakan sayapnya lebih cepat. Hasilnya bukan tambah cepat tapi kedua sayapnya semakin lelah. Kedua bangau itu Hampir meluncur jatuh karena kelelahan. Akhirnya Kedua bangau itu menjatuhkan kedua batu yg ada di punggungnya agar mereka tidak meluncur jatuh. Saat kedua batu itu jatuh, para gembala berteriak “Watu Tiban (batu jatuh)! Watu Tiban”. Teriakan para penggembala itu didengar banyak orang, sehingga peristiwa tersebut tersebar kemana mana dan menjadi pembicaraan banyak orang. Watu Tiban pun di singkat menjadi tu-ban, dan akhirnya daerah tersebut dinamakan TUBAN.

Dua batu yag menjadi legenda itu masih ada. di batu itu tertuliskan tahun 1400 saka, dan masih di simpan di halaman museum kambang putih tidak jauh dari Alun-Alun kota Tuban dan makam Sunan Bonang.

About these ads

Aksi

Information




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: